MAHASISWA HO’OH….WHAT’S UP ??

“Hah…mahasiswa ho’oh ?? mahasiswa apa’an tuh ?? dari universitas mana ?? ato dari fakultas mana?“.Begitu kata teman saya sewaktu saya mengatakan kalau saya akan menuliskan tentang salah satu “budaya” dari mahasiswa di kampus yang sangat saya cintai.Sebenarnya, itu cuma sebutan atau istilah yang saya buat sendiri untuk menyebut para mahasiswa yang………..(baca:tuuuuut) Aaah…..sebaiknya tidak usah saya jelaskan sekarang, karena anda pasti akan mengerti sendiri kalau sudah membaca tulisan berikut ini.Sederhana saja kok, dan saya yakin anda pasti bisa mendefinisikannya sendiri, karena saya tau anda semua adalah orang-orang yang dapat berpikir, orang-orang yang pintar. He…… Dari dahulu sampai sekarang, yang namanya mahasiswa dikenal sebagai agen pembawa perubahan (agent of change), sejarah sudah mencatat semuanya, mulai dari zaman penjajahan sampai dijaman sekarang ini.Mahasiswa selalu ikut andil dalam setiap peristiwa, baik besar maupun kecil, yang membawa pengaruh pada setiap lembaran sejarah yang ada.Kenapa bisa begitu ?? terlepas dari kehendak Yang Maha Kuasa, he… mahasiswa adalah kumpulan dari orang-orang hebat (jadi gr), erdiri dari orang-orang pintar, para intelektual, golongan terpelajar, orang-orang yang kritis terhadap keadaan sekitarnya dan masih banyak lagi sifat-sifat terpuji yang menghiasi para manusia yang mempunyai sifat MAHA ini.Lalu,apa hubungannya dengan mahasiswa ho’oh yang saya sebutkan diatas tadi ? untuk lebih jelasnya, check it out…….

Dari Masalah Parkir Sampai Transkrip Nilai


Saya pernah diberitahu salah seorang dosen saya, kata beliau di pulau jawa sana setiap universitas yang ada, tidak ada yang mewajibakan mahasiswanya untuk membayar ongkos parkir setiap memarkir kendaraannya di areal kampus. Yang beliau herankan adalah mengapa dikampus yang saya cintai,setiap memarkir kendaraan selalu dikenai biaya Rp.500,- ??? Apa memang harus terjadi seperti itu? Saya tidak tahu apa alasan dari fakultas akan hal ini,tapi yang pasti adalah mahasiswa dirugikan..!!. Coba saja dihitung-hitung,berapa uang yang dikeluarkan untuk biaya parkir, misalnya selama satu bulan atau mau lebih lama lagi satu tahun, kan lumayan juga jumlahnya.Apalagi kalau uang tersebut digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya saja digunakan untuk membeli buku atau keperluan kuliah lain. Selain itu juga,mahasiswa kuliah tidak gratis bo, tapi bayar.Naah…kalau kuliahnya sudah bayar, kenapa parkirnya masih bayar juga..? Kenapa tidak gratis…? Menyikapi hal ini, kebanyakan mahasiswa bersikap cuek bebek saja, tidak ada yang mau protes. Mungkin ada juga mahasiswa yang protes, tapi kelihatannya cuma segelintir orang, dan sisanya senang menjadi mahasiswa ho’oh….. (apa mungkin mahasiswanya kaya-kaya ya?) Wallahu Alam.

Setiap kali mau sholat berjamaah dan tepat waktu, selalu saja terhalang oleh kegiatan kuliah yang masih berlangsung. Mau ijin untuk sholat, bisa-bisa nanti malah ketinggalan pelajaran.Hal ini terasa mengganggu sekali (bagi yang merasa terganggu) apalagi bagi yang jadwalnya padat, habis dari kuliah yang satu mengambil lagi kuliah yang lain, bisa-bisa malah tidak sempat sholat, syukur-syukur kalau dosennya masih memberi waktu untuk melakukan kewajiban tersebut, tapi bagaimana kalau tidak…? Naudzubillah deh… Coba dipikir-pikir, mana yang lebih didahulukan antara kewajiban beribadah kepada Allah SWT dengan kewajiban menuntut ilmu ? pasti kewjiban kepada Allah SWT kan.Tetapi kenapa pula dalam hal ini tidak ada mahasiswa yang mau protes, padahal setau saya mayoritas penghuni kampus adalah muslim. Dan mahasiswa Cuma Ho’oh akan hal ini……….

Lain lagi masalah parkir dan masalah jadwal, masalah yang ketiga ini adalah masalah gedung, masalah ruangan belajar, masalah sarana dan prasarana belajar dan masalah yang sebenarnya bukan masalah.Lho…kenapa saya katakan masalah yang sebenarnya bukan masalah…? Jadi penjelasannya begini : menurut saya, kalau seandainya mahasiswa merasa puas saja dengan keadaan gedung dan sarana prasarana yang ada, berarti masalah ini tidak akan menjadi masalah, betul kan ? Tapi bagaimana kalau tidak…?He… Saya tidak tahu pasti berapa banyak mahasiswa yang puas dan yang tidak, tapi sepengetahuan saya berdasarkan diskusi yang saya lakukan bersama teman-teman seperjuangan, ternyata banyak juga mahasiswa yang mengeluhkan tentang hal ini.Diantaranya adalah tentang ruangan belajar yang kotor, semrawut (kayak terminal pal 6 He..), sampai jam dindingpun juga ga ada, terus tentang sarana dan prasarana sudah tidak bisa dibayangkan lagi anehnya ? tentang komputer yang di”kerangkeng”lah (mangnya tahanan), tentang alat-alat belajar yang masih primitif lah, tentang….Aah malas saya ngejelasinnya, anda akan tahu sendiri kalau sudah datang dan berkunjung.he….. Dan menyikapi hal ini apa ?? mahasiswa Cuma bisa berho’oh ria…
Kegiatan kuliah semester ini sudah selesai, sekarang saatnya melihat hasil belajar yang telah dicapai, tapi kok….. KHSnya belum keluar juga…?! Kenapa…?? padahal jelas-jelas menurut jadwal perkuliahan yang ada, KHS keluar pada tanggal sekian bulan sekian, aneh bin ajaib.Naah…itulah yang selalu terjadi setiap semesternya dikampusku sayang, padahal sudah jelas-jelas ada jadwal yang mengaturnya, tapi kenapa bisa terjadi begitu ??hampir tiap semester lagi.Biasanya KHS keluar 1 minggu atau 2 minggu sesudah hari yang ditetapkan oleh jadwal, wueeh…hebat ya. Yang lebih aneh lagi adalah mengapa setiap mengambil KHS juga mesti bayar uang sekian, apa memang harus begitu?atau kenapa?kenapa ga gratis bo…?padahal mahasiswa sudah bayar uang kuliah.Betapa kasihannya nasib mahasiswa…, tapi kenapa mahasiswa cuma bisa diam,Cuma bisa ho’oh…!

Diam Belum Tentu Emas

Dengan melihat beberapa permasalahan yang saya kemukakan di atas tadi, sudah terbayang kan di benak anda sekalian apa itu mahasiswa ho’oh, mahasiswa yang cuma bisa menerima dengan santai apa saja keputusan dari fakultas, tidak peduli keputusan tersebut merugikan dirinya, mahasiswa yang tidak mau ada perubahan ke arah yang lebih baik, mahasiswa yang munafik terhadap agamanya sendiri, mahasiswa yang memelihara sikap egoisnya, mahasiswa yang senang dirinya dipeloroti sampai duitnya kering, mahasiswa yang cuma bisa mengatakan “iya” dan tidak bisa mengatakan “tidak”, dan mahasiswa yang…..? terserah anda mau mendefinisikannya apa….?
Diam itu emas, emas itu kuning, kuning itu apa…..?? Sikap diam belum tentu baik kan, apa hanya dengan diam seseorang dapat mengharapkan orang lain untuk dapat mengerti apa keinginannya ? Ga kan…? Jadi kenapa mesti diam saja menghadapi situasi seperti ini ? Lagian kan sekarang zaman sudah berubah, kita hidup diera reformasi, dimana kebebasan berpendapat diberikan kepada setiap individu.Kita jangan kalah dengan saudara-saudara kita yang ada di Java island sana, SDM kita jangan sampai tersisihkan dalam dunia persaingan, jangan sampai menjadi penonton kemajuan dan perkembangan zaman, kalau bisa harus menjadi player didalamnya.Untuk itu,kita harus berubah,dan untuk menuju perubahan tersebut kita harus menjadi manusia yang kritis, itu kuncinya. Dan untuk menjadi manusia yang kritis tersebut, kita tidak boleh DIAM….

Berawal dari budaya malas

Apabila anda ditanya tentang peribahasa yang kira-kira isinya begini : Rajin pangkal pandai, Hemat pangkal kaya, maka malas pangkal……….? He…tahu sendirilah apa kelanjutannya.Oleh sebab itu, sifat malas ini saya jadikan sebagai faktor nomor satu mangapa seorang mahasiswa bisa menjelma sebagai mahasiswa ho’oh. Didalam kesehariannya mahasiswa jenis ini biasanya lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain, kenapa saya katakan begitu, karena melihat dari kenyataan yang ada biasanya pada saat-saat dirinya merasa terjepit si mahasiswa akan berusaha untuk mendahulukan apa kepentingannya tersebut (biasanya sih,pada waktu deadline tugas kuliah he..). Sadar atau tidak, secara tidak langsung hal ini akan melatih dirinya untuk menjadi orang yang egois.Benar atau tidaknya pernyataan saya tersebut,saya juga kurang tahu,he… tapi kita bisa memikirkannya sendiri,bagaimana seseorang yang malas, yang selalu menunda-nunda kewajibannya dan selalu memikirkan dirinya sendiri bisa diandalkan untuk megadakan dan membawa perubahan disekitarnya, kalau saja ada, mungkin dia itu wali kali atau mungkin juga wala, ha…ha..ha..
Naah…oleh karena itu saya anjurkan supaya rekan mahasiswa sekalian untuk “don’t be lazy”, jangan menjadi pemalas coy,nanti bisa disebut mahasiswa ho’oh, mau…? sama juga dengan para pembaca, kalau tidak ingin disebut pembaca ho’oh.He… jadi ngawur…

Harapan menjadi Kenyataan

Tujuan saya menulis tentang ini bukan untuk apa-apa, bukan untuk menyalahkan salah satu pihak, ataupun untuk menyuruh para mahaiswa berdemo, apalagi melakukan tindakan-tindakan anarkis.Tapi…saya cuma ingin memberi penyadaran baik kepada saya maupun kepada saudara-saudara sekalian, bahwasanya ada hak-hak dan kewajiban yang harus kita penuhi dan kita usahakan, dan semuanya itu tidak akan terlaksana apabila kita semua tidak merubah diri dan tidak mengadakan perubahan kearah yang lebih baik.Saya juga tidak bermaksud menggurui anda sekalian,kalau saja ada kata yang dirasa tidak berkenan dihati, mohon dimaafkan, harap dimaklumi kalau saya cuma penulis amatir dengan keterbatasan kosakata yang ada. Semua permasalahan yang saya kemukakan di atas tadi adalah kenyataan yang benar-benar terjadi, bukan karangan semata.Saya ingin mengucapkan terima kasih sekali kepada beberapa orang dosen yang telah mumbuka jalan pikiran saya dan menyadarkan saya untuk dapat berpikir lebih berpikir (maksudnya kritis,he..).

                                        

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s